Jumat, 07 Maret 2008

Ternyata Tidak Sulit Membuat Etanol Sendiri

Membuat biofuel dalam hal ini etanol untuk mensubstitusi bahan bakar minyak khususnya premium ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Industri kecil skala rumahan pun bisa memproduksinya sendiri, syaratnya hanya ketekunan. Lebih menguntungkan lagi, biofuel ini bisa digunakan untuk campuran premium 5 - 10 persen.

Caranya, ubi kayu atau singkong yang segar dikupas kulitnya, dicuci lalu diparut. Selanjutnya dilikuifikasi atau ditambahkan enzim amilase dan dipanaskan hingga suhu 90 derajat celsiun selama 30 menit sambil terus diaduk.

Selanjutnya bubur ubi itu didinginkan, dan tambahkan enzim glukoamilase (atau istilah lain disakarifikasi) dan dipanaskan lagi hingga suhu 60 derajat Celsius selama 2 jam. Selanjutnya pada suhu 32 derajat Celsius, ditambahkan ragi. Kemudian difermentasi pada suhu kamar selama 72 jam. Langkah selanjutnya penyulingan, dengan pemanasan minimum 80 derajat celsius. Jadilah etanol dengan kadar 96 persen.

Agar kadar etanol bisa naik sampai 99,5 persen dan bisa digunakan untuk substitusi premium, perlu didehidrasi dengan teknologi molecular sieve.

Ternyata Tidak Sulit Membuat Etanol Sendiri

Membuat biofuel dalam hal ini etanol untuk mensubstitusi bahan bakar minyak khususnya premium ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Industri kecil skala rumahan pun bisa memproduksinya sendiri, syaratnya hanya ketekunan. Lebih menguntungkan lagi, biofuel ini bisa digunakan untuk campuran premium 5 - 10 persen.

Caranya, ubi kayu atau singkong yang segar dikupas kulitnya, dicuci lalu diparut. Selanjutnya dilikuifikasi atau ditambahkan enzim amilase dan dipanaskan hingga suhu 90 derajat celsiun selama 30 menit sambil terus diaduk.

Selanjutnya bubur ubi itu didinginkan, dan tambahkan enzim glukoamilase (atau istilah lain disakarifikasi) dan dipanaskan lagi hingga suhu 60 derajat Celsius selama 2 jam. Selanjutnya pada suhu 32 derajat Celsius, ditambahkan ragi. Kemudian difermentasi pada suhu kamar selama 72 jam. Langkah selanjutnya penyulingan, dengan pemanasan minimum 80 derajat celsius. Jadilah etanol dengan kadar 96 persen.

Agar kadar etanol bisa naik sampai 99,5 persen dan bisa digunakan untuk substitusi premium, perlu didehidrasi dengan teknologi molecular sieve.

Kelelawar Melayang Seperti Serangga


Dari segi ukuran, kelelawar mungkin terbang seperti seekor burung. Namun, caranya melayang di udara dalam waktu lama ternyata lebih mirip serangga.

Hewan malam yang lihai terbang di kegelapan itu memanfaatkan mekanisme arodinamika yang sama seperti serangga. Seperti dilaporkan dalam jurnal Science edisi terbaru, kekelawar mengandalkan pusaran udara horisontal yang disebut LEV (leading edge vortex) untuk menjaga tubuhnya tetap mengambang.

Tim peneliti gabungan dari Swedia dan AS mengungkap rahasia terbang melayang kelelawar setelah mempelajari dalam lorong angin. Para peneliti menaruh umpan di dalam ruangan dan melepaskan kelelawar. Kemudian, mereka merekam cara terbang kelelawar saat mendekati umpan menggunakan asap, laser, dan kamera yang dapat merekam gerakan sangat cepat.

Dari gerakan partikel-partikel asap, disimpulkan bahwa gaya dorong yang dihasilkan LEV menyumbangkan 40 persen gaya yang dibutuhkan untuk melayang. LEV terbentuk saat kelelawar mengepakkan sayapnya ke bawah. Hal tersebut menghasilkan gaya dorong ke atas yang cukup kuat sehingga kelelawar tidak jatuh saat melakukan gerakan lambat atau melayang, misalnya untuk mendekati mangsa.

Trik tersebut telah lama terbukti dilakukan serangga dan belum banyak terkuak peranannya untuk hewan bersayap yang lebih besar. Pada burung, LEV juga diketahui berperan penting, khususnya saat melakukan pendaratan sehingga nyaris tak pernah gagal. Pada kelelawar, teknik tersebut baru kali ini terbukti.

Kelelawar dapat mengendalikan posisi melayangnya menggunakan jari-jari yang menempel di membran kulit sayapnya. Gerakan jari akan mengubah sudut sayapnya, seperti fungsi flap (sirip) pada sayap pesawat terbang. Serangga tidak mungkin mengendalikan posisi melayang dengan trik yang sama seperti ini karena sayapnya kaku. Namun, serangga tetap dapat melakukannya dengan menggerakan sayap sangat cepat.

"Ini merupakan suatu informasi yang penting untuk mengetahui bagaimana menghasilkan sistem kendali berdasarkan bentuk sayap," kata ketua tim peneliti, Anders Hadenstrom daru Universitas Lund, Swedia. Temuan tersebut mungkin dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan sayap pesawat terbang, misalnya pesawat-pesawat kecil untuk pemetaan.

Rabu, 05 Maret 2008

Setelah 116 Tahun, Fosil Reptil Diketahui Palsu

Setelah diperlihatkan kepada pengunjung selama 116 tahun, fosil reptil laut di sebuah Museum Inggris akhirnya diketahui sebagai pemalsuan yang disengaja

Hidayatullah.com--Darwin Day, atau Hari Darwin, diperingati layaknya hari besar suci di Eropa dan Amerika Serikat. “Perayaan Hari Darwin, Pengakuan Dunia Ilmu Pengetahuan dan Kemanusiaan” , demikian papar situs www.darwinday.org. Situs itu menampilkan pula berbagai acara yang bakal diselenggarakan di berbagai negara pada atau seputar tanggal 12 Februari 2008 nanti dalam rangka merayakan hari lahir bapak evolusi dunia, Charles Darwin.

Namun, bagi kalangan intelektual yang memahami kekurangan dan kelemahan ilmiah teori evolusi, perayaan ini dijadikan ajang penyebarluasan informasi tentang kekeliruan ilmiah teori evolusi di hadapan ilmu pengetahuan modern. Tidak hanya itu saja, teori evolusi sampai sekarang memang masih dipenuhi silang pendapat di kalangan evolusionis sendiri, termasuk pemalsuan beragam fosil oleh evolusionis sendiri.

Pemalsuan selama 116 tahun

Dinosaur exposed as fake (Dinosaurus diungkap palsu), demikian judul situs berita tersohor Inggris, BBC, 8 Desember 2000. Laporan itu memberitakan fosil reptil laut yang dipajang di Museum Nasional Wales di kota Cardiff, Inggris. Setelah diperlihatkan kepada pengunjung selama 116 tahun, akhirnya diketahui fosil itu adalah pemalsuan yang disengaja.

Makhluk yang telah menjadi fosil itu sebelumnya diyakini sebagai spesimen sempurna reptil laut bernama Icthyosaurus. Namun, ketika pegawai museum hendak meremajakan kerangkanya, fosil yang telah dipajang seabad lebih itu diketahui palsu.

Fosil campur aduk

Fosil itu bukanlah berasal dari satu binatang utuh, melainkan gabungan dari dua hewan laut yang berbeda. Selain itu, pada bukti evolusi palsu itu terdapat tulang palsu yang terbuat dari plester.

Ditemukan bahwa bagian tengkorak fosilnya disambungkan pada kerangka selebihnya dengan merekatkan di dalam beragam jenis bebatuan, kata para ahli yang menelitinya. Makhluk ini adalah pemberian seorang pengumpul fosil bernama Samuel Allen pada tahun1884.

Kepergok secara tidak disengaja

Penipuan tersebut terbongkar setelah pihak museum memutuskan bahwa plester yang retak perlu diganti. Di saat itulah ditemukan bahwa ternyata tengkorak kepalanya adalah milik hewan Icthyosaurus communis yang terekat pada batu berwarna abu-abu. Akan tetapi, bagian tubuhnya terekat pada batu berwarna coklat muda, dan diketahui milik binatang berbeda, namun mirip, Leptonectes tenuirostris.

Tulang belulang selebihnya dibuat dari plester dan ditempelkan pada batu tersebut agar tampak asli. Selain itu, salah satu siripnya juga palsu.

Menanggapi temuan ini, pejabat pelestarian di museum itu, Dr. Caroline Buttler, berujar, "Kami telah yakin selama ini bahwa itu adalah spesimen sempurna dari seekor Icthyosaurus." Icthyosaurus adalah reptil laut raksasa purba yang menyerupai ikan dan lumba-lumba.

Pemalsuan Zaman Viktoria

Meskipun fosil tersebut masih akan dipajang di museum, namun statusnya kini telah berubah. Fosil ini dijadikan contoh bagaimana orang-orang yang hidup di zaman Viktoria (sekitar tahun 1840 – 1900) memalsukan pajangan.

Seputar pemalsuan ini, Dr. Caroline Buttler, mengisahkan lebih lanjut:

"Tapi ketika plester itu mulai retak dan rontok dan kami menguliti lima lapisan cat, kami temukan [spesimen] itu adalah pemalsuan sengaja. Ini gabungan dua jenis berbeda dari Icthyosaurus ditambah upaya cerdas menambah bagian-bagian palsu."

"Sangatlah mengejutkan untuk menemukan bahwa makhluk itu tidaklah sebagaimana yang tampak selama bertahun-tahun tapi karya amburadul," kata Dr Buttler. Ia menambahkan, "Tapi Anda harus menyalahkan orang-orang zaman Viktoria yang telah melakukan pemalsuan seperti itu dan telah membodohi kita selama bertahun-tahun ini."

Demikianlah, bahkan pakar fosil sekalipun sulit untuk membedakan barang palsu dan asli. Diperlukan 116 tahun untuk membongkar pemalsuan ini, itupun diawali oleh ketidaksengajaan, dan bukan pemeriksaan sengaja untuk mengetahui tingkat keaslian fosil itu.

Lalu, bagaimana dengan nilai ilmiah teori evolusi yang juga didasarkan oleh rekonstruksi fosil-fosil?.

Pemanis Buatan Pemicu Berat Badan

Memakai pemanis buatan non kalori akan membuat lebih sulit untuk mengurangi berat badan ketimbang memakai gula, demikian penelitian terbaru

Para ilmuwan Purdue University di West Lafayette, Indiana, melakukan studi dengan menguji tikus yang diberi pemanis buatan (sakarin) dan tikus yang diberi glukosa, sejenis gula alami.

Dalam perbandingan yang dilakukan terhadap tikus yang diberi susu dengan glukosa, tikus yang diberi susu dengan sakarin mengkonsumsi lebih banyak kalori dan berat badannya serta kandungan lemaknya bertambah.

Para peneliti mengatakan makanan manis dapat mendorong tubuh menyerap banyak kalori, tetapi bila pemanis buatan tidak disertai dengan sejumlah kalori yang cukup, tubuh akan menjadi bingung, yang mana bisa mendorong naiknya nafsu makan dan energi yang terbuang lebih sedikit.

“Studi dengan jelas menunjukkan bahwa mengkonsumsi makanan yang diberi pemanis sakarin nonkalori dapat mendorong meningkatnya berat badan dibanding mengkonsumsi makanan yang sama dengan kalori tinggi gula,” peneliti Purdue, Susan Switchers dan Terry Davidson menulis dalam jurnal Behavioral Neuroscience, yang dipublikasikan oleh American Psychological Association.

“Hasil ini nampaknya sangat tidak diharapkan oleh para peneliti kesehatan manusia dan praktisi perawat kesehatan, yang sudah sejak lama merekomendasikan penggunaan pemanis rendah non kalori untuk mengendalikan berat badan.”

Pemanis buatan lainnya seperti ‘aspartame’ yang juga terasa manis tetapi tidak mendorong pertambahan kalori dapat berdampak sama, kata para peneliti.

“Dengan meningkatnya penggunaan pemanis non kalori dalam lingkungan makanan masa kini, jutaan orang sedang terlena pada kesukaan akan rasa manis yang tidak mengandung kalori atau nutrisi,”para peneliti menambahkan.

Penelitian ini adalah yang paling akhir untuk menguji pertanyaan apakah pemanis buatan yang digunakan dalam minuman ringan dan makanan dapat membantu atau merintangi upaya dalam mengurangi berat badan. Beberapa studi telah menawarkan hasil yang bervariasi.

Tanggapan industri

Penelitian baru ini mendapat kecaman dari industri makanan. “Studi ini sangat menyederhanakan penyebab obesitas.” Beth Hubrich, seorang ahli diet bersama Lembaga Pengawasan Kalori, sebuah asosiasi industri mewakili perusahaan-perusahaan makanan dan minuman rendah kalori, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Penyebab kegemukan ada banyak faktornya. Walaupun survei telah menunjukkan adanya peningkatan terhadap penggunaan makanan bebas gula selama bertahun-tahun, takaran (porsi) makanan juga telah bertambah, aktivitas fisik telah menurun dan asupan kalori secara keseluruhan telah meningkat,”tambah Hubrich.

Lembaga tersebut juga mengatakan penemuan studi pada hewan tidak dapat diterapkan pada manusia, sebagaimana diakui para cendekiawan.

Davidson mengatakan lewat email bahwa implikasi dari pernyataan lembaga tersebut bahwa mereka juga tertarik pada kesehatan masyarakat nampaknya tidak jujur.

“Jika mereka jujur, orang mungkin berharap mereka akan diperingatkan oleh adanya penemuan dari percobaan hewan atau manusia yang menyimpulkan bahwa produk mereka mungkin memberikan kontribusi pada wabah obesitas yang berlanjut pada penyebaran dan merusak,” kata Davidson.

Poster Memperolok kota Mekah di Berlin

Seolah tak belajar dari pengalaman sebelumnya, kelompok seniman di Jerman membuat pameran dengan memperolok kota Mekah. Kabah disebut 'batu bodoh'

ImageHidayatullah.com--Masih subur saja kebencian yang dikait-kaitkan dengan Islam. Setelah pemuatan kartun bergambar Nabi Muhammad di Denmark dan rencana penayangan film “anti-Quran” di Belanda, kini muncul poster memperolok kota suci Mekah di Berlin, Jerman.

Sebuah galeri seni di Berlin, Jerman, menutup sementara pameran poster setelah salah satu poster yang dipajang memperolok-olok kota Mekah, yang merupakan tempat paling suci bagi umat Islam. Keputusan ini dikeluarkan menyusul ancaman yang diduga datang dari orang Islam.

Pameran ini diorganisir kelompok Denmark, Surrend, dengan alasan bahwa mereka ingin menentang ekstremisme agama. Poster yang dipajang itu menunjukkan pada gambar Kabah tertera tulisan 'batu bodoh' dalam bahasa Jerman.

Poster yang termasuk di antara 22 karya seni ini juga menunjukkan para jamaah Muslim sedang berjalan mengelilingi Kabah dan tulisan pada gelembung ucapan yang menyebutkan 'Zionis menduduki pemerintah', yang mengacu pada judul pameran.

Para seniman Denmark ingin membuat satire tentang teori konspirasi bahwa orang Yahudi berada di balik segalanya. Suatu pandangan yang lazim dianut neo-Nazi dan di sebagian belahan dunia Arab.

Islamofobia: Apartheid Gaya Baru

Islamofobia, adalah apartheid gaya baru di zaman modern. Demikian kesimpulan para cendekiawan Muslim, termasuk Harun Yahya

ImageHidayatullah.com--Bukanlah suatu kebetulan jika Islam dimusuhi di mana-mana. Ada “proyek yang terencana” oleh musuh-musuh Islam dan pejuang aparteit dalam rangka memadamkan cahaya Islam.

Islamofobia adalah model terbaru dari apartheid dan diskriminasi. Untuk mengetahui sejauh mana hal itu terjadi di Eropa, kita tidak perlu menelaah berbagai laporan berbagai komisi Eropa, sebab setiap saat datanya bertambah, sehingga tidak perlu lagi dilakukan berbagai infestigasi dan sensus.

Salah satu alasan untuk melenyapkan Islam dari dunia Barat adalah anggapan bahwa Muslim fundamentalis atau ekstrim (begitu istilah Barat) semakin berkembang dan jumlahnya terus bertambah. Anggapan itu diperkuat dengan “tuduhan” lain, bahwa kaum muslimin tidak mendukung konsep demokrasi.

Satu hal yang perlu dipertanyakan, bahwa kaum Muslim yang hidup di Barat yang memiliki loyalitas dan kepatuhan pada aturan dan perundangan yang berlaku layak dianggap ekstrim, sementara mereka sendiri yang melakukan berbagai tindakan tidak logis tidak dianggap ekstrim?

Sebagian kaum orintalis yang memang tidak memahami Islam secara benar atau bahkan sebagiannya adalah memang anti Islam selalu menyebarkan isu dan ide demikian ke tengah masyarakat dunia sehingga kaum Muslimin dimana saja berada selalu dibatasi ruang gerak dan kekuasaannya.

Babak Baru Barat vs Islam

Baru-baru ini, sejumlah cendekiawan Musli seperti; Urhon Behesyti, anggota Yayasan Ats tsaqalain, Belanda dan mantan dosen di Universitas Routerdam, Sayyid Dzahirul Hasan Naqawiy, Imam Masjid Pusat Kajian Islam dan Masjid Ar Rasul, San Khozeh, Amerika, Abdul Halim Musa, Imam Jumat di Mesjid Washington juga Harun Yahya, seorang intelektual dari Turki, Ahmad Bahrainiy, Ketua Pusat Kajian Islam di Washington, Naqi Hasan Kirmani, seorang intelektual dan peneliti ilmu-ilmu Islam dan dosen Universitas London serta Ir. Ashghar Ali, intelektual ternama di India, memberikan keterangannya tentang ‘tsunami Barat’ terhadap ini.

Abdul Alim Musa mengatakan, setiap tindakan yang melecehkan kesucian Nabi besar Muhammad saw akan memberikan dampak dan konsekunsi negatif. Namun pada saat yang sama juga menjadi faktor pendukung perkembangan dan pesatnya Islam di Barat.

Imam Jumat di Masjid Washington itu menegaskan, bawha Bush dan Zionisme-Israel berkali-kali melakukan penyerangan dan pelecehan terhadap kesucian Islam, namun apa yang mereka lakukan itu bukan hanya tidak memberikan faedah apa-apa kepada mereka sendiri bahkan menjadi pendorong agar Islam lebih dikenal di tengah masyarakat Barat.

Sementara itu, Urhon Behesytiy anggota Yayasan Ats tsaqalain, Belanda mengatakan, diantara hal yang perlu mendapatkan perhatian kita adalah, bahwa Barat dengan menggunakan berbagai cara dan fasilitas serta rekayasa dan tipu daya, diantaranya media massa telah melakukan berbagai penyerangan dan pelecehan atas budaya Islam yang kaya.

Sebaliknya, Semakin banyak yang menyerang Islam, semakin banyak orang yang ingin mengenal Islam dan memeluk agama Islam, ujar Ahmad Bahrainiy, Ketua Pusat Kajian Islam di Washington.

Faktanya, ujar Sayyid Dzahirul Hasan Naqawi, di Amerika, pasca tragedi 11 September Islam meskik semua media menggambarkan wajah Islam yang menyeramkan, namun banyak dari kaum muda Amerika dan non-Amerika justru mempelajari Islam.

Sementara itu, cendekiawan Muslim Turki, Harun Yahya mengatakan, “Barat haruslah dibagi pada dua kelompok, sekelompok kafir dan materialisme dan kelompok beragama. Kelompok pertama inilah yang memiliki permusuhan tidak hanya pada pemeluk agama Islam, namun dengan seluruh nilaii keagamaan meanapun. Mereka menginginkan agar masyarakat kosong dari berbagai nilai-nilai keagamaan dan hal ini akan menjadi pasar yang baik untuk memasarkan keinginan mereka mengumpulkan berbagai kekayaan materi.”